Kamis, 11 April 2013

Psychological Wonderland: Lucid Dream


Banyak banget (eh salah, banyak kali) teman-teman saya yang menanyakan apa itu lucid dream, bagaimana cara mendapatkannya, apa yang bisa dilakukan dalam lucid dream...
jujur saya bahkan ga tau saya pernah lucid dream atau nggak. tapi saya benar-benar penasaran, apa sebenernya lucid dream itu.
nah ini dia pembahasannya:
(thanks to bang Fachri Rizki dan TM iqbal atas rekomendasi materi Postingannya)

Lucid Dream, dalam istilah yang sederhana, bisa diartikan sebagai keadaan dimana seseorang menyadari bahwasanya ia sedang bermimpi. Istilah ini diciptakan oleh Frederik Willem van Eden, seorang psikiater dan penulis berkebangsaan Belanda. Kesadaran ini dapat berkisar dari kesadaran yang sangat samar bahwa mimpi tersebut bukanlah kenyataan sampai kesadaran sebagai perluasan kesadaran ketika seorang tersebut terjaga.


Apa yang dapat pemimpi lakukan dengan Lucid Dreamnya mencerminkan kecenderungan pribadi dan tingkat keterampilan yang didapatkan melalui pengalaman dan latihan. Meskipun seorang pemimpi Lucid Dream dapat mempengaruhi struktur, karakter, jalan cerita mimpi dan lain-lain tentang mimpinya, hal ini bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sebagai bakat yang dimana Lucid Dream dapat memberikan pemimpi apa yang ia inginkan menjadi terwujud dalam mimpinya tersebut. 



Seorang yang telah berpengalaman mengalami Lucid Dream (yang lebih sering mengalami Lucid Dream daripada tidak) akan terus menghadapi tantangan psikologis dan perkembangan dalam mimpinya tersebut. Mimpi yang menyenangkan dan menyedihkan, yang mudah dan sulit, yang indah dan mengerikan, semuanya terjadi sebanyak yang mereka alami pada saat berada di mimpi biasa (bukan Lucid Dream). Tetapi, berbeda dengan mimpi biasa yang diisi dengan seluk-beluk rumit dari pikiran bawah sadar mereka, seorang pemimpi Lucid Dream memiliki kesempatan untuk secara sadar mengeksplorasi mimpinya. 



Lucid Dream biasanya terjadi ketika seseorang di tengah-tengah mimpi biasa dan tiba-tiba ia menyadari bahwa ia sedang berada dalam mimpi. Orang tersebut kemudian dikatakan menjadi ‘lucid’ (jernih), dan dapat memasukkan satu dari banyak tingkat kejernihan. Pada tingkat terendah, pemimpi mungkin akan secara samar-samar menyadari bahwa ia sedang bermimpi, tetapi ia tidak dapat berpikir dengan cukup rasional untuk menyadari bahwa peristiwa/orang lain/tindakan dalam mimpi adalah tidak nyata/tidak menimbulkan dampak apapun terhadapnya. Pada tingkat tertinggi, sang pemimpi menyadari sepenuhnya bahwa ia sedang tidur, dan dapat memiliki kontrol penuh atas tindakannya di dalam mimpi. 



Namun, dengan mental yang rendah yang mempengaruhi keputusan anda, keputusan anda dapat menjadi bias yang tidak dengan pendapat anda, tetapi oleh otak anda. Anda dapat mengendalikan mimpi anda menggunakan metode Lucid Dream berikut. 



1. Pada Siang Hari, Berulang Kali Bertanya “Apakah Aku Bermimpi?”

Dan lakukan hal ini kapanpun anda ingat. Dengan latihan yang cukup, secara otomatis anda akan mengingatnya selama impian anda dan anda akan melakukannya dalam mimpi anda tersebut.



2. Buatlah Sebuah Buku Catatan (Jurnal) Mimpi

Ini mungkin langkah yang paling penting menuju Lucid Dream. Letakkanlah jurnal mimpi dekat dengan tempat tidur anda di malam hari, dan tuliskan mimpi anda di dalamnya segera setelah anda bangun. Atau anda dapat menggunakan alat perekam jika anda lebih mudah untuk mengulangi menceritakan impian anda dengan suara anda. Hal ini membantu anda mengenali elemen umum mimpi anda (orang-orang dari masa lalu anda, tempat-tempat tertentu, dan lain-lain), dan juga memberitahu otak anda bahwa anda benar-benar ingin untuk mengingat mimpi anda.



3. Pelajari Waktu Terbaik Untuk Mendapatkan Lucid Dream
Dengan menjadi sadar akan jadwal tidur anda, anda dapat mengatur pola tidur anda untuk membantu memicu Lucid Dream.

  • Studi sangat menyarankan bahwa tidur  beberapa jam setelah anda bangun di pagi hari adalah waktu yang paling umum untuk mendapatkan Lucid Dream.
  • Lucid Dream berkaitan erat dengan tidur REM. Tidur REM lebih banyak dijumpai sebelum seseorang benar-benar terbangun dari tidurnya. Hal ini berarti Lucid Dream paling sering terjadi tepat sebelum anda bangun.
  • Mimpi biasanya berlangsung dalam siklus 60 menit selama tidur. Jika anda berusaha mengingat mimpi anda, mungkin akan sangat membantu jika anda mencoba untuk membangunkan diri selama salah satu siklus ini (mimpi terputus biasanya lebih sering kita ingat)
  •  



4. Cobalah Teknik MILD (Mnemonic Induction Of Lucid Dreaming)

  • Atur alarm untuk membangunkan Anda 4.5, 6, atau 7.5 jam setelah anda tertidur.
  • Ketika anda dibangunkan oleh alarm anda, cobalah untuk mengingat mimpi anda sebanyak mungkin yang anda bisa.
  • Bila anda pikir anda telah mengingat sebanyak mungkin yang anda bisa, kembalilah ke tempat tidur anda, bayangkanlah bahwa anda berada dalam mimpi anda sebelumnya, dan menjadi sadar bahwa anda sedang bermimpi. Katakan pada diri sendiri, “aku akan menyadari bahwa aku bermimpi”, atau kata-kata yang lain yang serupa. Lakukan ini sampai anda berpikir bahwa ia telah ‘meresap masuk’ ke dalam pikiran anda. Lalu segera pergi tidur.
  • Jika pikiran-pikiran lain mucul ketika anda mencoba untuk tertidur kembali, ulangi membayangkan mimpi anda. Jangan khawatir jika hal itu menghabiskan waktu yang lama. Semakin lama waktu yang dibutuhkan, semakin besar bayangan tersebut akan ‘meresap’, dan semakin besar kemungkinan anda akan mendapatkan Lucid Dream.



5. Lakukan Teknik WBTB (Wake Back To Bed)

Ini adalah teknik yang biasanya paling berhasil dibandingkan teknik yang lainya.

  • Pergi tidur.
  • Atur alarm sampai 5 jam setelah anda tertidur.
  • Setelah anda bangun, tetaplah terjaga selama kira-kira satu jam dengan pikiran anda terfokus pada Lucid Dream dan Lucid Dream saja.
  • Tidurlah kembali menggunakan teknik MILD.



6. Cobalah Teknik WILD (Wake Initiated Lucid Dream)
Pada dasarnya adalah bahwa ketika anda tertidur anda membawa kesadaran anda dari saat anda bangun langsung menuju tidur REM dan anda memulainya sebagai sebuah Lucid Dream.

  • Cara termudah untuk mencoba teknik ini adalah jika anda mengambil tidur siang atau anda hanya tidur selama 3-7 jam.
  • Cobalah untuk bermeditasi dalam keadaan tenang tapi terfokus. Anda dapat mencoba menghitung napas, membayangkan anda tengah naik / turun tangga, terjatuh kedalam sistem tata surya, berada di daerah yang kedap suara yang tenang, dan lain-lain.
  • Mendengarkan Theta binaural beats untuk jumlah waktu tertentu akan dengan mudah akan menempatkan anda ke tidur REM.



7. Lakukan Teknik Diamond Method Of Meditation 

Ketika seseorang bermeditasi, mencoba untuk membayangkan hidup anda, baik kehidupan terjaga maupun mimpi sebagai sisi pada berlian. Maksudnya di sini adalah mulai untuk mengenali kehidupan yang terjadi sekaligus. Hal ini hanya ‘persepsi’ kita yang mengatur drama kita menjadi linier atau ‘waktu’. Jadi seperti sebuah berlian, masing-masing sisi jika dilihat sebagai pengalaman individu, masih terjadi pada saat yang sama juga. Metode ini juga dikenal sebagai Penglihatan Jarak Jauh. 



8. Melibatkan Diri Ke Dalam Subjek Lucid Dream

Sebagai contoh, anda dapat melihat di situs web tentang Lucid Dream (termasuk ketika anda membaca artikel BerbagaiHal ini), menonton film dengan tema Lucid Dream (misalnya Waking Life, Vanilla Sky, Inception), membaca buku tentangnya, dan lain-lain.



9. Coba Menandai "B" (Yang Berarti "Bangun") Di Telapak Tangan

Setiap kali Anda melihat "B" selama anda terjaga, tentukan apakah anda bangun atau tertidur. Akhirnya, ketika anda melihat "B" dalam tidur anda dan anda mendapatkan Lucid Dream.



10. Biasakan Melakukan Pemeriksaan Kenyataan

Lakukan setidaknya tiga pemeriksaan kenyataan setiap kali sesuatu tampak luar biasa, sangat membuat frustasi, atau tidak masuk akal, dan kebiasaan ini akan terbawa masuk ke mimpi anda. Dalam mimpi, hal ini akan memberitahu anda bahwa anda sedang tidur, dan yang paling penting, memungkinkan anda mendapatkan Lucid Dream. Dalam rangka mengingat untuk melakukan pemeriksaan kenyataan dalam mimpi, anda perlu membuat kebiasaan melakukan pemeriksaan kenyataan dalam kehidupan nyata. Salah satu cara untuk melakukan pemeriksaan kenyataan adalah untuk mencari ‘tanda-tanda mimpi’ (elemen yang sering terjadi selama impian anda, cari ini dalam jurnal mimpi anda), atau hal-hal yang biasanya tidak ada dalam kehidupan nyata, dan kemudian lakukan pemeriksaan kenyataan. Ketika tindakan-tindakan ini menjadi kebiasaan, seseorang akan mulai melakukannya dalam mimpinya, dan bisa sampai pada kesimpulan bahwa dia sedang bermimpi. Sering melakukan pemeriksaan ternyata mampu menstabilkan mimpi. Hal ini juga dikenal sebagai DILD (Dream Induced Lucid Dreams). Beberapa taktik meliputi:

  • Melihat jam untuk melihat apakah ia tetap konstan
  • Melihat teks, memalingkan muka, dan kemudian menoleh kembali untuk melihat apakah ia telah berubah
  • Membalik sebuah tombol lampu
  • Melihat di cermin (gambar anda akan paling sering muncul buram atau tidak muncul sama sekali dalam mimpi). Namun, sosok anda dapat mengerikan di dalam cermin, menakutkan anda menjadi mimpi buruk bagi anda.
  • Menjepit hidung anda sampai tertutup dan mencoba untuk bernapas.
  • Melirik tangan anda, dan bertanya pada diri sendiri, “apakah aku bermimpi?” (ketika bermimpi, anda akan sering melihatnya berukuran lebih besar atau terdapat kurang dari lima jari di tangan anda)
  • Melompat di udara, anda biasanya dapat terbang selama mimpi.
  • Menusuk diri, ketika bermimpi, "daging" anda mungkin akan lebih elastis daripada di kehidupan nyata, sebuah pemeriksaan kenyataan umum adalah mendorong jari anda melalui telapak tangan anda
  • Mencubit lengan anda. Dalam mimpi, anda seharusnya tidak dapat merasakan cubitan anda tersebut. Namun, hal ini mungkin tidak bekerja karena dalam mimpi, tindakan masih dapat memiliki efek pada tubuh anda.
  • Cobalah bersandar di dinding. Dalam mimpi, anda akan sering jatuh melalui dinding.



11. Memperpanjang Lucid Dream Dengan Memutar Tubuh Anda Atau Jatuh Ke Belakang Dalam Mimpi (Yang Diduga Memperpanjang REM), Dan Menggosok Tangan Anda (Mencegah Anda Merasakan Sensasi Berbaring Di Tempat Tidur)

Berhati-hatilah saat berputar. Ingatkan diri anda bahkan saat anda berputar atau jatuh bahwa anda sedang bermimpi, karena anda akan menemukan diri di lokasi yang sama sekali berbeda saat anda berhenti berputar atau menyentuh tanah. Jika anda merasa mimpi ‘bergetar’ atau akan memudar, lihatlah ke tanah dan visualisasikan sekitar anda, ingatkan diri anda sedang bermimpi.



12. Jadilah Lebih Pro-Aktif Tentang Impian Anda

Memiliki tujuan dalam pikiran dan cobalah untuk mencapainya.



13. Dengarkan Binaural Beats

Binaural Beats sering digunakan untuk menginduksi Lucid Dream, dan banyak yang menjamin bahwa metode ini secara dramatis meningkatkan tingkat keberhasilan. Secara teoritis, mendengarkan Binaural Beats menurunkan frekuensi otak, memicu efek yang berbeda seperti relaksasi dan induksi mimpi. Cari Binaural beats Theta, karena menggunakan frekuensi gelombang otak yang sama yang digunakan dalam mimpi. Anda juga mungkin ingin mendengarkan Alpha dan Delta Binaural beats karena mereka membantu Anda bersantai dan jatuh ke dalam tidur non-REM.



14. Lihatlah Mimpi Sebelumnya Dalam Jurnal Mimpi Anda
Jika anda mulai melihat pola dalam mimpi anda, anda akan melihat tanda mimpi, atau hal-hal tertentu yang terus muncul dalam mimpi anda. Misalnya, semua mimpi anda terjadi di halaman belakang anda, atau semua impian anda memiliki kesenangan di dalamnya. Biasakan melakukan pemeriksaan setiap kali anda melihat tanda impian anda, dan akhirnya ketika anda melihat tanda impian anda dalam mimpi, anda akan melakukan pemeriksaan kenyataan dan menyadari bahwa anda sedang bermimpi.



Psychological Hints: Meski hanya menjadi perhatian masyarakat umum dalam beberapa dekade terakhir, Lucid Dream bukanlah penemuan modern. Sebuah surat yang ditulis oleh St Augustine of Hippo pada 415 M mengacu pada Lucid Dream. Pada abad ke-8, Orang Buddha di Tibet dan Bonpo telah mempraktekkan bentuk Dream Yoga yang dilakukan untuk mempertahankan kesadaran saat berada dalam mimpi. Sistem ini secara luas dibahas dan dijelaskan dalam buku "Dream Yoga and the Practice of Natural Light".
 

Film Berbau Psikologi


Film Psikologi?.saya termasuk salah satu pecinta film-film dengan genre ini. Film-film yang objeknya atau ceritanya ada unsur mempelajari psikologi seseorang. Saya sangat suka film yang bermain-main dengan pikiran kita, penuh dengan intrik dan memutar otak kita untuk menontonnya (tapi film-film psikologi gak semuanya berakhir dengan twist ending, hehehe). Seseorang pernah berkata dengan menonton film bergenre psikologi "We can learn a lot and undirect and directly figure out of learning about psychology theories, psychology cases, psyco-pathology, etc

Inilah List film-film yang ada kaitannya dengan psikologi :
SCHIZOPHRENIA
1. A Beautiful Mind (2001)
Diambil dari kisah nyata seorang seorang ahli matematika genius yang bernama John Forbes Nash, yang berhasil menciptakan konsep ekonomi yang kini dijadikan sebagai dasar dari teori ekonomi kontemporer. Selama Perang Dingin berlangsung, Nash mengidap schizophrenia yang membuatnya hidup dalam delusi, halusinasi dan selalu dibayangi ketakutan hingga ia harus berjuang keras untuk sembuh dan meraih hadiah Nobel tahun 1994, kala ia memasuki usia senja.
2. Fight Club (1999)
Edward Norton memerankan soerang pria berkepribadian ganda, mendirikan sebuah klub bernama Fight Club. Halusinai dan delusi dia munculkan sebgaai ketua klub, dan kepribadian gandanya merencanakan sesuatu yang berbahaya.
3. Secret Window (2004)
Seroang penulis bernama Mort Rainey (Depp) yang menjadi korban plagiarisme. Tenryata yg melakukan plagiat adalah dirinya yang lain.
Shutter Island adalah sebuah karya teranyar dari salah satu sutradara paling dihormati di Hollywood, Martin Scorsese yang kembali bekerjasama dengan Leonardo DiCaprio. Film ini berkisah tentang dua orang marshal yang menuju Pulau yang dihuni oleh para orang gila dan psikopat yang mengalami gangguan jiwa berat, umumnya para psikopat ini adalah seorang pembunuh.
Di tempat tersebut, Teddy dan Chuck mendapat tugas untuk melakukan investigasi terhadap seorang narapidana wanita, Rachel Solando (Emily Mortimer) yang tiba2 saja raib secara misterius dalam sebuah kamar terkunci dan tanpa ada seorangpun yang tahu. Penyelidikan lebih lanjut ternyata malah membawa Teddy terjebak dalam sebuah kasus yang lebih rumit dan juga berbahaya yang tidak pernah diduga sebelumnya, belum lagi mantan veteran perang dunia ke 2 ini juga harus berhadapan dengan konflik pribadi dimana trauma masa lalunya masih menghantuinya selama ini.
5. The Forbidden Door/Pintu Terlarang (2009)
Seorang pemuda yang sejak kecil masuk rumah sakit jiwa, menderita halusinasi dan delusi akut.

6. Identity (2003)
Satu orang yang mempunyai 10 identitas yang berbeda, memiliki delusional bahwa 10 orang di dalam dirinya juga saling berinteraksi, berkomunikasi, dan saling membunuh.
7. The Soloist (2009)
Kisah nyata persahabatan antara wartawan new york times dg seorang gelandangan yang memiliki kemampuan jenius dalam memainkan cello, akan tetapi dia penderita schizophrenia. Wartawan tersebut membantu si gelandangan utk dapat kembali bersosialisasi dg masyarakat.
MULTIPLE PERSONALITY
1. Identity (2003)
2. Fight Club (1999)
3. Me, Myself, and Irene (2000)
4. Peacock (2010)
5. The Beaver (2011)
6. Hide And Seek (2005)
7. Shutter Island (2010)
8. Soul Mate/Belahan Jiwa (2005)
9. Black Swan (2011)
10. The Ward (2011)

TRANS GENDER/TRANS SEXUAL

1. Boys Don’t Cry (1999)

OBSESSIVE-COMPULSIVE DISORDER

1. As Good As It Gets (1997)
2. Matchstick Men (2003)
3. Monk – Tv Series (2002-2009)
4. Pi (1998)
5. The Aviator (2004)

OBSESSION

1. Taxi Driver
2. Pi (1998)
3. Black Swan (2011)
4. Requiem for The Dream (2000)

PSIKOLOGI FORENSIK/PROFILER

1. Silence Of The Lambs (1991)
2. Bone Collector (1999)
3. Se7en (1995)
4. Copycat (1995)
5. Zodiac (2007)
6. Mind Hunters 

ASPERGER SYNDROME

1. Adam (2009)
2. Mary And Max (2009)
3. My Name Is Khan (2010)
4. Mozart And The Whale (2005)

AUTISM

1. Rain Man (1988)
2. Cube (1997)
3. Mozart and The Whale (2005)
4. Mercury Rising (1998)
5. Snow Cake (2006)

MENTAL RETARDED

1. I Am Sam (2001)
2. Radio (2003)
3. Dreamcatcher (2003)
4. Forrest Gump (1994)

POST TRAUMATIC STRESS DISORDER

1. Reign Over Me (2007)
2. Fearless (1993)
3. Creation (2009)

EROTOMANIA

1. He Love Me, He Loves Me Not (2002)

BORDERLINE PATHOLOGY

1. Girl, Interupted (1999)

CATATONIA

1. Awakenings (1990)

GROUP DYNAMIC

1. Miracle (2004)
2. Remember The Titans (2000)

CLASSICAL CONDITIONING

1. Danny The Dog (2005)

PEDOPHILIA

1. The Lovely Bones (2009)
2. Changeling (2008)
3. Happiness (1998)
4. doubt (2008)
5. hard Candy (2005)
6. Trade (2007)

COGNITIVE & SHORT TERM MEMORY LOST

1. Memento (2000)
2. 50 First Date (2004)
3. Finding Nemo (2003)

SOCIOPATH

1. Dark Knight (2008)
2. Silence of The Lamb (1991)
3. Hannibal (2001)
4. Red Dragon (2002)

PERSON-CENTERED THEORY

1. The Pianist (2001)
2. In To The Wild (2007)
3. The Truman Show (1998)

MENTAL INSTITUTION MOVIES

1. Its Kinda Funny Story (2010)
2. Girl, Interrupted (1999)
3. One Flew Over the Cuckoo’s Nest (1975)
4. Awakenings (1990)

ALZHEIMER

1. The Notebook (2004)
2. Iris (2001)
3. Rise of The Planet Of The Apes (2011)
4. A Moment To Remember (2004) => Korean Movie
5. Away from Her (2006) 

INDUSTRIAL PSYCHOLOGY

1. Gung-Ho (1986)

SUICIDE

1. Seven Pounds (2008)
2. Shawsank Redemption (1994)
3. Seven Samurai (1954)
4. Mary and Max (2009)

WITHDRAWAL / ANTISOCIAL

1. Lars And Teh Real Girl

EUTHANASIA

1. The English Patitent
2. Million Dollar Baby
3. One Flew Over the Cuckoo’s Nest (1975)

COUNSELING

1. Good Will Hunting (1997)
2. Analyze This (1999)
3. Analyza That (2002)
4. 50/50 (2011)
5. Antwone Fisher (2002)

Miscellaneous Uncatagorized :

1. Cinderella Man (2005)
2. Kramer vs Kramer (1979)
3. Pursuit of Happyness (2006)
4. Monster’s Ball (2001)
5. My Sister’s Keepers (2009)
6. My Life Without Me (2003)
7. The Bucket List (2007)
8. Life As A House (2001)
9. Warriror (2011)
10. Sang Penari (2011)
11. Tropa de Elite 1 (2008)
12. Tropa de Etile 2 (2010)
13 City of God (2002)
13. House of Sand and Fog (2003)
14. Shawsank Redemption (1994)
15. Patch Adams (1998)
16. Jakob The Liar (1999)
17. The Talented Mr Ripley (1999)
18. The Usual Suspects (1995)
19. Pay It Forward (2000)
20. Crash (2004)
21. Departures (2008)
22. Life Is Beautiful (1997)
23. The Hurt Locker (2008)
24. The Damned United (2009)
25. Blind Side (2010)
26. Invictus (2010)
27. Coach Carter (2005)
28. Finding Forrester (2000)
Psychological Hints:
Behaviorisme adalah pandangan yang menyatakan bahwa perilaku harus dijelaskan melalui pengalaman yang dapat diamati,bukan dengan proses mental yang menurut kaum behavioris,perilaku adalah segala sesuatu yang kita lakukan dan bisa dilihat secara langsung contohnya seperti guru tersenyum pada anak dan murid menganggu murid lain.Pendeketan behavioral menekankan bagaimana anak membuat hubungan antara pengalaman dan perilaku. 
Teori pendekatan behavioral yang sesuai dengan cerita film An Invisible Sign yaitu mengunakan teori kondisioning operan (operant conditioning) pada B.F Skinner yang dimana penelitian kondisioning operan dilakukan Skinner dengn objek burung merpati.Seekor merpati lapar dimasukkan ke dalam kotak Skinner (skinner box) kotak kecil yang kedap,memisahkan merapi dari lingkungan normal dan memungkinkan peeliuti mengontrol seluruh variasi lingkungan,mengontrol dan mencatat event stimulus dan respon yang terjadi.merapi lapar itu dhadapakan dengna stimulus dinding kotak yang salah satu sisinya ada bintik yang dapat mengeluarkan cahaya merah.setiap kali merpati mematuk bintik itu,keluar makanan dari lubang di bawah bintik itu. 










Rabu, 10 April 2013

Mata Kita, Percikan Kedustaan?


Kenapa Mata dapat kita gunakan untuk membaca pikiran seseorang? Karena mata merupakan sesuatu hal yang dapat mewakili jalan pikiran atau kata hati kita. Orang bisa melihat isi hati seseorang bahkan hanya dengan melihat matanya (mungkin itu sebabnya seseorang yang sedang terkena suatu kasus atau tertangkap basah sedang melakukan sesuatu yang kurang baik, maka mereka akan cenderung berusaha menutupi matanya baik melalui kain, kerudung, topi atau kaca mata hitam). Melalui mata, kita bisa mengetahui apakah seseorang sedang sedih atau gembira, bersimpati atau bahkan membenci kita, bermaksud baik atau jahat pada kita. Artinya, mulut boleh berkata apa saja tetapi mata tidak bisa bohong.





Sebagai contoh jika dia berbohong pastilah dia akan berusaha menghindari berlama-lama menatap lawan bicaranya. Biasanya ia hanya mampu menatap Anda hanya maksimal selama dua pertiga lamanya waktu pertemuan. Sesekali ia pasti akan menunduk atau pandangannya berjalan kemana-mana,misalnya ke dinding, menatap tanah atau sepatu, buat menyembunyikan rahasia yang dimilikinya dari Anda. Artinya lagi, orang yang jujur pastilah tidak akan ragu-ragu menatap mata Anda dengan mantap.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai berbagai macam isyarat gerakan mata, dan setiap isyarat pastilah menyimpan maksud tertentu.


http://www.kaskus.co.id/post/50913d1ae774b4c76b000055

Sarjana Psikologi, Jadi Apa?

Saya teringat salah seorang senior saya, bang Imam Setiawan. dia sangat baik dan menginspirasi. baru-baru ini dia mendapatkan titel s.Psi. lalu jika kita bertanya, kalau kita sudah dapat titelnya, mau jadi apa?

ini dia jawabannya:






Sekitar lima atau enam tahun yang lalu, ketika saya masih duduk di bangku SMA, dunia Psikologi adalah dunia asing dan baru bagi saya. Tapi anehnya, saya begitu tertarik dengan ilmu tentang perilaku manusia tersebut. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk kuliah di bidang psikologi. Sebuah pilihan yang anomali, mengingat tradisi alumni di SMA saya nyaris semuanya masuk di bidang teknik atau kedokteran. Saat itu pun saya sama sekali tidak mempertimbangkan prospek pekerjaan untuk bidang psikologi. Saya hanya berbekal rasa penasaran dan ketertarikan yang begitu besar pada bidang psikologi.
Pada masa itu, saya masih sering menjumpai orang-orang yang melihat dunia psikologi berkelindan dengan dunia Rumah Sakit Jiwa dan segala penyakit kejiwaan lainnya. Anggapan yang tidak salah karena sejarah ilmu psikologi memang berawal dari ranah psikologi klinis. Setelah masuk ke dunia perkuliahan, barulah saya sadar bahwa cakupan ilmu psikologi teramat luas. Saking luasnya, bisa dikatakan selagi masih ada manusia, maka ilmu psikologi akan tetap berkembang. Umumnya ilmu psikologi di Indonesia dibagi menjadi beberapa konsentrasi, seperti psikologi pendidikan, psikologi klinis, psikologi industri dan organisasi, psikologi perkembangan, dan psikologi sosial.
Saya sendiri ketika masih kuliah sebenarnya lebih berkonsentrasi pada materi psikologi klinis dan perkembangan. Tugas akhir saya pun berupa studi kualitatif dengan subjek penderita thalassemia. Tapi nyatanya, sejak lulus hingga saat ini saya berkarier di bidang pengelolaan sumber daya manusia, dalam dunia industri. Biasanya, posisi sarjana psikologi dalam sebuah perusahaan berada di bagian Human Resources Development. Nah, menariknya, tidak semua posisi Human Resources terpaku pada latar belakang ilmu psikologi. Barangkali jika syaratnya adalah ilmu manajemen atau pun ilmu hukum memang masih berada dalam ranah pengembangan sumber daya manusia. Tapi beberapa perusahaan, ada yang membuka posisi Human Resources dengan persyaratan sarjana teknik informatika dan teknik sipil. Kalau begitu, apa spesialnya seorang sarjana psikologi?
Seperti yang telah saya katakan di awal artikel ini, ilmu psikologi cakupannya amat luas. Sehingga tidak menutup kemungkinan ia bersinggungan, bahkan bergabung dengan disiplin ilmu yang lain. Apalagi ditambah dengan menjamurnya buku-buku psikologi populer yang umumnya menjadi best seller di toko buku besar. Untuk profesi-profesi yang kelihatannya “dekat” dengan ilmu psikologi, seperti motivator, trainer, ataupun konselor, toh banyak diisi oleh orang yang tidak bergelar sarjana psikologi. Beberapa rekan saya sempat berseloroh bahwa para motivator atau para trainer itu telah “memakan” lahannya orang psikologi. Bagi saya pribadi, kenyataan seperti itu sebenarnya adalah tantangan nyata bagi para sarjana psikologi agar senantiasa meningkatkan dan memperbarui kompetensi keilmuannya.
Seorang sarjana psikologi idealnya mengetahui hukum-hukum dasar dalam pola perilaku manusia, baik di dunia pendidikan, klinis, atau pun dunia industri. Penguasaan terhadap alat tes adalah salah satu kompetensi penting bagi sarjana psikologi, tapi bukan yang terpenting. Sejatinya alat tes hanyalah media untuk melakukan penilaian terhadap kondisi psikologis seseorang, baik sisi kecerdasan atau sisi kepribadian. Psikotes menjadi semacam salah satu sumber untuk melakukan penilaian . Selain itu, sarjana psikologi harus mampu menjadi seorang pengamat perilaku yang ulung sekaligus pendengar yang aktif. Menjadi pendengar aktif bukan hal mudah, karena kita harus bisa fokus terhadap apa yang dikatakan oleh orang lain, sekaligus bisa memberikan tanggapan yang tepat terhadap apa yang telah ia utarakan.
Kode etik psikologi memang mengatur masalah pengetesan psikologi (psikotes) yang hanya boleh dilakukan oleh kalangan dari dunia psikologi. Namun untuk penilaian sikap yang lain, seperti wawancara misalnya, bisa saja dilakukan oleh orang yang tidak memiliki dasar ilmu psikologi. Berdasarkan pengalaman saya di dunia kerja, terlihat perbedaan cara melakukan wawancara antara seorang sarjana psikologi dengan yang bukan sarjana psikologi. Pewawancara yang bukan sarjana psikologi, cenderung mendominasi sesi wawancara dan hanya menyediakan ruang yang sedikit bagi pelamar kerja untuk menggambarkan kondisi dirinya. Padahal wawancara adalah salah satu media untuk menilai dan membiarkan pelamar kerja terbuka terhadap kondisi dirinya. Maka idealnya, dalam sesi wawancara, pewawancara bicara lebih sedikit daripada yang diwawancarai. Tapi itu biasanya tergantung pada jam terbang seorang pewawancara. Semakin sering ia mewawancarai orang, biasanya kompetensi mendengarkan aktif akan semakin terasah.
Maka, daripada mengutuk kegelapan, lebih baik kita menyalakan lilin. Daripada para sarjana psikologi berkeluh kesah karena merasa bidangnya diisi oleh orang-orang non psikologi (bidang Human Resources, motivator, atau trainer), lebih baik kembangkan terus ilmu psikologi dalam diri anda. Bagaimanapun juga, saya yakin para sarjana psikologi tetap memiliki ruh dan DNA psikologi yang tidak dimiliki oleh orang-orang dari luar bidang psikologi. Hanya masalahnya, bagaimana cara anda menjaga agar ruh tersebut tetap hidup atau membiarkannya mati tak berbekas.


sumber:
http://diy4h.wordpress.com/40/

KODE ETIK DAN SYARAT-SYARAT PSIKOLOG


Syarat-syarat Psikodiagnostikus
1)      Syarat Materil:
-         Mempunyai pandangan tentang manusia ( Mens Beschowing ) yang matang.
-         Mempunyai lapangan pengetahuan dalam bidang psikologi yang cukup luas.
-         Mempunyai kecekatan yang cukup dalam menggunakan berbagai tekhnik diagnosis psikologis.
2)      Syarat Formil
-         Memiliki derajat ( degree ) dalam lapangan psikologi.
-         Memiliki sertifikat dalam lapangan psikodiagnostik
-         Untuk metode-metode tertentu harus memiliki brevet.
Etika Dalam Psikodiagnostik
1)      Tidak menganggap si subjek sebagai pasien atau penderita yang membutuhkan pertolongan, melainkan sebagai sesama manusia yang mempunyai harga diri, kebangsaan dan keinginan-keinginan tertentu.
2)      Menjaga rahasia pribadi si subjek
3)      Membuat diagnosis dengan penuh hati dan penuh tanggung jawab
4)      Dengan penuh simpati berusaha memahami kesukaran – kesukaran si subjek.
Dari syarat-syarat diatas dapat kita ketahui bahwa seorang psikolog harus memiliki kemampuan dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
  • Aspek Kognitif : Mencakup aspek intelegensi yang dimiliki oleh psikolog. Contoh : Psikolog harus memiliki derajat ( degree ) dalam lapangan psikologi.
  • Aspek Afektif : Mencakup aspek perasaan, sikap dan emosi seorang psikolog. Contoh : Tidak menganggap si subjek sebagai pasian yang membutuhkan pertolongan, melainkan sebagai sesama manusia yang memiliki harga diri, kebangsaan, dan keinginan tertentu.
  • Aspek Psikomotorik : Mencakup dalam hal praktek dan kecakapan seorang psikolog.
Contoh : Psikolog mempunyai kecekatan yang cukup dalam menggunakan berbagai teknik diagnosis psikologi, dll.
Menurut APA, psikolog harus memenuhi kriteria
  • Competence
Psikolog Harus memiliki dan mendapatkan pendidikan formal yang mendukung dalam bidang psikologi, seperti lulusan S1 psikologi, S2 psikologi, S3 psikologi
  • Integritas
Berkaitan dengan moral yang dimoliki psikolog. Psikoloh haruslah jujur dan adil. Jika dia tidak mampu menangani masalah kliennya maka dia harus berkata tidak bisa. Adil dalam memperlakukan antar klien.
  • Professionalisme and Scientifik Responsibility
Berkaitan dengan pekerjaan. Psikolog harus profesional dan tanggung jawab terhadap semua kliennya serta benar-benar menerapkan dan melaksanakan kode etik psikolog
  • Concer for other welfare
Memperhatikan kesejahteraan klien
  • Sosial Resposibility
Memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi
HIMPUNAN PSIKOLOGI INDONESIA (Himpsi)
KODE ETIK PSIKOLOGI INDONESIA

MUKADIMAH

Berdasarkan kesadaran diri atas nilai-nilai luhur Pancasila dan UUD 1945, Ilmuwan Psikologi menghormati harkat dan martabat manusia serta menjunjung tinggi terpeliharanya hak-hak asasi
manusia. Dalam kegiatannya, Ilmuwan Psikologi dan Psikolog Indonesia mengabdikan dirinya untuk meningkatkan pengetahuan tentang perilaku manusia dalam bentuk pemahaman bagi dirinya dan pihak lain serta memanfaatkan pengetahuan pengetahuan dan kemampuan tersebut bagi kesejahteraan
manusia.
Kesadaran tersebut merupakan dasar bagi Ilmuwan Psikologi dan Psikolog Indonesia untuk selalu berupaya melindungi kesejahteraan mereka yang meminta
jasa/praktek beserta semua pihak yang terkait dalam jasa/praktek tersebut atau pihak yang menjadi obyek
studinya. Pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki hanya digunakan untuk tujuan yang taat asas berdasarkan nilai-nilai luhur Pancasila dan UUD 1945 serta nilai-nilai kemanusiaan pada umumnya dan mencegah penyalahgunaan oleh pihak lain.Tuntutan kebebasan menyelidiki dan berkomunikasi dalam melaksanakan kegiatannya di bidang
penelitian, pengajaran, pelatihan, jasa/praktek konsultasi dan publikasi dipahami oleh Ilmuwan Psikologi dan Psikolog dengan penuh tanggung
jawab. Kompetensi dan obyektivitas dalam menerapkan kemampuan profesional terikat dan sangat memperhatikan pemakai
jasa, rekan sejawat dan masyarakat pada umumnya.Pokok-pokok pikiran tersebut dirumuskan dalam KODE ETIK PSIKOLOGI INDONESIA sebagai perangkat nilai-nilai untuk ditaati dan dijalankan dengan sebaik-baiknya dalam melaksanakan kegiatan selaku Ilmuwan Psikologi dan Psikolog di Indonesia.

BAB I
PEDOMAN UMUM
Pasal 1
PENGERTIAN

a. ILMUWAN PSIKOLOGI adalah para lulusan perguruan tinggi dan universitas di dalam maupun di luar
negeri, yaitu mereka yang telah mengikuti pendidikan dengan kurikulum nasional (SK Mendikbud No. 18/D/O/1993) untuk pendidikan program akademik
(Sarjana Psikologi); lulusan pendidikan tinggi strata 2 (S2) dan strata 3 (S3) dalam bidang
psikologi, yang pendidikan strata 1 (S1) diperoleh bukan dari fakultas
psikologi. Ilmuwan Psikologi yang tergolong kreteria tersebut dinyatakan DAPAT MEMBERIKAN JASA PSIKOLOGI TETAPI TIDAK BERHAK DAN TIDAK BERWENANG UNTUK MELAKUKAN PRAKTEK PSIKOLOGI DI INDONESIA.
b. PSIKOLOG adalah Sarjana Psikologi yang telah mengikuti pendidikan tinggi psikologi strata 1 (S1) dengan kurikulum lama
(Sistem Paket Murni) Perguruan Tinggi Negeri (PTN); atau Sistem Kredit Semester
(SKS) PTN; atau Kurikulum Nasional (SK Mendikbud No. 18/D/0/1993) yang meliputi pendidikan program akademik
(Sarjana Psikologi) dan program pendidikan profesi (psikolog); atau kurikulum lama Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang sudah mengikuti ujian negara sarjana
psikologi; atau pendidikan tinggi psikologi di luar negeri yang sudah mendapat akreditasi dan disetarakan dengan psikolog Indonesia oleh Direktorat Pendidikan Tinggi
(DIKTI) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud RI). Sarjana Psikologi dengan kriteria tersebut dinyatakan BERHAK DAN BERWENANG untuk melakukan PRAKTEK PSIKOLOGI di wilayah hukum Negara Republik Indonesia. Sarjana Psikologi menurut kriteria ini juga dikenal dan disebut sebagai
PSIKOLOG. Untuk melakukan praktek psikologi ini DIWAJIBKAN MEMILIKI IZIN PRAKTEK PSIKOLOGI sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
c. JASA PSIKOLOGI adalah jasa/praktek kepada perorangan atau kelompok/organisasi/institusi yang diberikan oleh Ilmuwan Psikologi Indonesia sesuai dengan kompetensi dan kewenangan keilmuan psikologi di bidang
pengajaran, pendidikan, pelatihan, penelitian, penyuluhan masyarakat.
d. PRAKTEK PSIKOLOGI adalah kegiatan yang dilakukan oleh psikolog dalam memberikan
jasa/praktek kepada kepada masyarakat dalam pemecahan masalah psikologis yang bersifat individual maupun kelompok dengan menerapkan prinsip
psikodiagnostik. Termasuk dalam pengertian praktek psikologi tersebut adalah terapan prinsip psikologi yang berkaitan dengan melakukan kegiatan DIAGNOSIS, PROGNOSIS, KONSELING dan
PSIKOTERAPI.
e. PEMAKAI JASA PSIKOLOGI adalah perorangan, kelompok, le,baga atau
organisasi/institusi yang menerima dan meminta jasa/praktek psikologi. Pemakai jasa juga dikenal dikenal dengan sebutan KLIEN.Pasal 2TANGGUNG JAWABDalam melaksanakan
kegiatannya, Ilmuwan Psikologi dan Psikolog mengutamakan obyektivitas,
kejujuran, menjunjung tinggi integritas dan norma-norma keahliannya serta menyadari konsekuensi
tindakannya.
Pasal 3

BATAS KEILMUAN
Ilmuwan Psikologi dan Psikolog menyadari sepenuhnya atas keterbatasan keilmuan
psikologi.
Pasal 4

PERILAKU dan CITRA PROFESI
a) Ilmuwan Psikologi dan Psikolog wajib menyadari bahwa dalam melaksanakan keahliannya wajib mempertimbangkan dan mengindahkan etika dan nilai-nilai moral yang berlaku dalam
masyarakat.b) Ilmuwan Psikologi dan Psikolog wajib menyadari bahwa perilakunya dapat mempengaruhi citra Ilmuwan Psikologi dan Psikolog serta profesi
psikologi.

BAB II

HUBUNGAN PROFESIONAL
Pasal 5
HUBUNGAN ANTAR REKAN PROFESI
a) Ilmuwan Psikologi dan Psikolog wajib menghargai, menghormati dan menjaga hak-hak serta nama baik rekan
profesinya, yaitu sejawat akademisi keilmuan Psikologi / Psikolog.b) Ilmuwan Psikologi dan Psikolog seyogyanya saling memberikan umpan balik untuk peningkatan keahlian
profesinya.c) Ilmuwan Psikologi dan Psikolog wajib mengingatkan rekan profesinya dalam rangka mencegah terjadinya pelanggaran kode etik
psikologi.d) Apabila terjadi pelanggaran kode etik psikologi yang di luar batas kompetensi dan kewenangan maka wajib melaporkan kepada organisasi
profesi.
Pasal 6

HUBUNGAN DENGAN PROFESI LAIN
a) Ilmuwan Psikologi dan Psikolog wajib menghargai, menghormati kompetensi dan kewenagngan rekan dari profesi
lain.b) Ilmuwan Psikologi dan Psikolog wajib mencegah dilakukannya pemberian jasa atau praktek psikologi oleh orang atau pihak yang tidak memiliki kompetensi dan
kewenangan.
BAB III

PEMBERIAN JASA/PRAKTEK PSIKOLOGI
Pasal 7
PELAKSANAAN KEGIATAN SESUAI BATAS KEAHLIAN/KEWENANGAN
a) Ilmuwan Psikologi dan Psikolog hanya memberikan jasa/praktek psikologi dalam hubungannya dengan kompetensi yang bersifat obyektif sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam pengaturan terapan keahlian Ilmuwan Psikologi dan
Psikolog.b) Ilmuwan Psikologi dan Psikolog dalam memberikan jasa/praktek psikologi wajib menghormati hak-hak
lembaga/organisasi/institusi tempat melaksanakan kegiatan sejauh tidak bertentangan dengan kompetensi dan
kewenangannya.
Pasal 8

PERLAKUKAN TERHADAP PEMAKAI JASA ATAU KLIEN

Dalam memberikan jasa/praktek psikologi kepada pemakai jasa atau klien, baik yang bersifat
perorangan, kelompok, lembaga atau organisasi/institusi sesuai dengan keahlian dan
kewenangannya, Ilmuwan Psikologi dan Psikolog berkewajiban untuk :a) Mengutamakan dasar-dasar
profesional.b) Memberikan jasa/praktek kepada semua pihak yang
membutuhkannya.c) Melindungi klien atau pemakai jasa dari akibat yang merugikan sebagai dampak
jasa/praktek yang diterimanya.d) Mengutamakan ketidak berpihakan dalam kepentingan pemakai jasa atau klien dan pihak-pihak yang terkait dalam pemberian pelayanan
tersebut.e) Dalam hal pemakai jasa atau klien yang menghadapi kemungkinan akan terkena dampak negatif yang tidak dapat dihindari akibat pemberian
jasa/praktek psikologi yang dilakukan oleh Ilmuwan Psikologi dan Psikolog maka pemakai jasa atau klien tersebut harus diberitahukan tentang kemungkinan-kemungkinan
tersebut.
Pasal 9

ASAS KESEDIAAN
Ilmuwan Psikologi dan Psikolog wajib menghormati dan menghargai hak pemakai jasa atau klien untuk menolak keterlibatannya dalam pemberian
jasa/praktek psikologi, mengingat asas sukarela yang mendasar pemakai jasa dalam menerima atau melibatkan diri dalam proses pemberian
jasa/praktek psikologi.
Pasal 10

INTERPRETASI HASIL PEMERIKSAAN
Interpretasi hasil pemeriksaan psikologik tentang klien atau pemakai jasa psikologi hanya boleh dilakukan oleh psikolog berdasarkan kompetensi dan
kewenangan.
Pasal 11
PEMANFAATAN DAN PENYAMPAIAN HASIL PEMERIKSAAN
Pemanfaatan hasil pemeriksaan dilakukan dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku dalam praktek
psikologi. Penyampaian hasil pemeriksaan psikologik diberikan dalam bentuk dan bahasa yang dipahami klien atau pemakai
jasa.
Pasal 12

KERAHASIAAN DATA DAN HASIL PEMERIKSAAN
Ilmuwan Psikologi dan Psikolog wajib memegang teguh rahasia yang menyangkut klien atau pemakai jasa psikologi dalam hubungan dengan pelaksanaan
kegiatannya. Dalam hal ini keterangan atau data mengenai klien yang diperoleh Ilmuwan Psikologi dan Psikolog dalam rangka pemberian
jasa/praktek psikologi hendaknya mematuhi hal-hal sebagai berikut :a) Dapat diberikan hanya kepada yang berwenang mengetahuinya dan hanya memuat hal-hal yang langsung dan berkaitan dengan tujuan pemberian
jasa/praktek psikologi.b) Dapat didiskusikan hanya dengan orang-orang atau pihak yang secara langsung berwenang atas diri klien atau pemakai jasa
psikologi.c) Dapat dikomunikasikan dengan bijaksana secara lisan atau tertulis kepada pihak ketiga hanya bila pemberitahuan ini diperlukan untuk kepentingan
klien, profesi dan akademisi. Dalam kondisi tersebut identitas orang atau klien yang bersangkutan tetap
dirahasiakan.
Pasal 13
PENCANTUMAN IDENTITAS PADA LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN DARI PRAKTEK PSIKOLOGI
Segala keterangan yang diperoleh dari kegiatan praktek psikologi sesuai keahlian yang
dimilikinya, pada pembuatan laporan secara tertulis Psikolog yang bersangkutan wajib membubuhkan tanda
tangan, nama jelas dan nomor izin praktek sebagai bukti pertanggung
jawaban.

BAB IV

PERNYATAAN
Pasal 14
PERNYATAAN
a) Dalam membeikan pernyataan dan keterangan/penjelasan ilmiah kepada masyarakat umum melalui berbagai jalur media lisan maupun
tertulis, Ilmuwan Psikologi dan Psikolog bersikap bijaksana, jujur,
teliti, hati-hati, lebih mendasarkan pada kepentingan umum daripada pribadi atau
golongan, dengan berpedoman pada dasar ilmiah dan disesuaikan dengan bidang
keahlian/kewenangan selama tidak bertentangan dengan kode etik
psikologi. Pernyataan yang diberikan Ilmuwan Psikologi dan Psikolog mencerminkan
keilmuannya, sehingga masyarakat dapat menerima dan memahami secara
benar.b) Dalam melakukan publikasi keahliannya, Ilmuwan Psikologi dan Psikolog bersikap
bijaksana, wajar dan jujur dengan memperhatikan kewenangan sesuai ketentuan yang berlaku untuk menghindari kekeliruan penafsiran serta menyesatkan masyarakat pengguna jasa
psikologi.

BAB V
KARYA CIPTA
Pasal 15
PENGHARGAAN TERHADAP KARYA CIOTA PIHAK LAINDAN PEMANFAATAN KARYA CIPTA PIHAK LAIN
a) Ilmuwan Psikologi dan Psikologi wajib menghargai karya cipta pihak lain sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang
berlaku.b) Ilmuwan Psikologi dan Psikolog tidak dibenarkan untuk
mengutip, menyadur hasil karya orang lain tanpa mencantumkan
sumbernya.c) Ilmuwan Psikologi dan Psikolog tidak dibenarkan
penggandakan, memodifikasi, memproduksi, menggunakan baik sebagian maupun seluruh karya orang lain tanpa mendapatkan izin dari pemegang hak
cipta.
Pasal 16

PENGGUNAAN DAN PENGUASAAN SARANA PENGUKURAN PSIKOLOGIK
Ilmuwan Psikologi dan Psikolog wajib membuat kesepakatan dengan
lembaga/institusi/organisasi tempat bekerja mengenai hal-hal yang berhubungan dengan masalah
pengadaan, pemilikan, penggunaan, penguasaan sarana pengukuran. Ketentuan mengenai hal ini diatur
tersendiri.
BAB VI

PENGAWASAN PELAKSANAAN KODE ETIK
Pasal 17
PELANGGARAN
Setiap penyalahgunaan wewenang di bidang keahlian psikologi dan setiap pelanggaran terhadap Kode Etik Psikologi Indonesia dapat dikenakan sanksi organisasi oleh aparat organisasi yang berwenang sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Himpunan Psikologi Indonesia.
Pasal 18
PENYELESAIAN MASALAH PELANGGARANKODE ETIK PSIKOLOGI INDONESIA
a) Ilmuwan Psikologi dan Psikolog dalam menyelesaikan masalah pelanggaran kode etik dilakukan oleh Majelis Psikologi dengan memperhatikan laporan dan memberi kesempatan membela
diri.b) Apabila terdapat masalah etika dalam pemberian jasa/praktek psikologi yang belum diatur dalam Kode Etik Psikologi Indonesia maka Himpunan Psikologi Indonesia wajiib mengundang Majelis
Psikologi.
BAB VII

PENUTUP
Sebagai kelengkapan Kode Etik Psikologi Indonesia ini disertakan lampiran yang tidak
terpisahkan, yang bersifat menjelaskan dan melengkapi.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 26 April 1998 Rapat Kerja/Kongres Luar Biasa Himpunan Psikologi Indonesia

Sumber:
http://diy4h.wordpress.com/40/

Minggu, 07 April 2013

Psikologi Dalam Islam

Sejarah keilmuan Islam yang gemilang mencatat tiga corak pendekatan dalam memahami jiwa manusia. Pertama, pendekatan Qur’ani-Nabawi dimana jiwa manusia dipahami dengan merujuk pada keterangan kitab suci al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah saw. Perbincangannya berkisar sifat-sifat universal manusia (syahwat kepada lawan jenis, properti, uang, fasilitas mewah, takut mati, takut kelaparan, pongah, pelit, korup, gelisah, mudah frustrasi), sebab maupun akibatnya (lupa kepada Allah, kurang berzikir, ikut petunjuk syaitan, tenggelam dalam hawa nafsu, hidup merana dan mati menyesal, di akhirat masuk neraka), dan beberapa karakter jiwa (nafs): yang selalu menyuruh berbuat jahat (ammarah bis-su’), yang senantiasa mengecam (al-lawwamah) dan yang tenang damai (al-mutma’innah). Perspektif ini diwakili oleh tokoh-tokoh semisal Ibn Qayyim al-Jawziyyah (w. 1350). Dalam kitabnya ar-Ruh, misalnya, diterangkan bagaimana ruh menjalar di tubuh manusia yang memungkinkannya bergerak, merasa, dan berkehendak. Ruh orang mati itu wujud dan merasakan siksa di alam kubur sekalipun jasadnya hancur.   
Kedua, pendekatan Falsafi dimana pelbagai masalah jiwa dibahas menurut pandangan para filsuf Yunani kuno. Mazhab falsafi ini mulai berkembang pada abad ke-10 Masehi, menyusul penerjemahan karya-karya ilmuwan Yunani kuno ke dalam bahasa Arab. Para psikolog Muslim pada masa itu banyak dipengaruhi oleh teori-teori jiwa Plato dan Aristoteles. Tak mengherankan, sebab Aristoteles mengupas aneka persoalan jiwa manusia dengan sangat logis dan terperinci. Teori-teorinya tertuang dalam bukunya De Anima (tentang hakikat jiwa dan aneka ragam kekuatannya) dan Parva Naturalia (risalah-risalah pendek mengenai persepsi inderawi dan hubungannya dengan jiwa, daya hapal dan ingatan, hakikat tidur dan mimpi, firasat dan ramalan). Adapun Plato ialah filsuf yang pertama kali melontarkan teori tiga aspek jiwa manusia: rasional (berdaya pikir), animal (hewani), dan vegetatif (berdaya tumbuh).  
Hampir semua filsuf Muslim yang menulis karya tentang jiwa bertolak dari pandangan Aristoteles. Mulai dari Miskawayh yang menulis kitab Tahdzib al-Akhlaq dan Abu Bakr ar-Razi pengarang kitab at-Thibb ar-Ruhani hingga Ibnu Rusyd dan Abu Barakat al-Baghdadi. Menurut mereka, jiwa manusia adalah penyebab kehidupan. Tanpa jiwa, manusia tak berarti apa-apa. Kecuali ar-Razi, semua filsuf percaya bahwa jiwa manusia itu tunggal dan sendiri. Karenanya mereka menolak teori transmigrasi jiwa dari satu tubuh ke tubuh yang lain, seperti dalam kepercayaan agama tertentu. Dalam salah satu kitabnya, Ibnu Sina menegaskan pentingnya penyucian jiwa dengan ibadah seperti shalat dan puasa. Sebab, menurutnya, jiwa yang bersih akan mampu menangkap sinyal-sinyal dari alam ghaib yang dipancarkan melalui Akal Suci (al-‘aql al-qudsi). Kemampuan semacam inilah yang dimiliki oleh para nabi, tambahnya. Jiwa para nabi itu begitu bersih dan kuat sehingga mereka mampu menerima intuisi, ilham dan wahyu ilahi (Lihat: kitab an-Nafs, ed. Fazlur Rahman, hlm 248-50 dan Avicenna’s Psychology, hlm 36-7).   
Ketiga ialah pendekatan Sufistik dimana penjelasan tentang jiwa manusia didasarkan pada pengalaman spiritual ahli-ahli tasawuf. Dibandingkan dengan psikologi para filsuf yang terkesan sangat teoritis, apa yang ditawarkan para sufi lebih praktis dan eksperimental. Termasuk dalam aliran ini kitab ar-Riyadhah wa Adab an-Nafs karya al-Hakim at-Tirmidzi (w. 898) dimana beliau terangkan kiat-kiat mendisiplinkan diri dan membentuk kepribadian luhur. Menurut Abu Thalib al-Makki (w. 996), jiwa manusia sebagaimana tubuhnya membutuhkan makanan yang baik, bersih, dan bergizi. Jiwa yang tidak cukup makan pasti lemah dan mudah sakit. Semua itu diterangkan beliau dalam kitab Qut al-Qulub (‘nutrisi hati’).
Tokoh penting lainnya ialah Imam al-Ghazali (w. 1111 M) yang menguraikan dengan sangat memukau aneka penyakit jiwa dan metode penyembuhannya. Penyakit yang diderita manusia ada dua jenis, ujarnya, fisik dan psikis. Kebanyakan kita sangat memperhatikan kesehatan tubuh tetapi jarang peduli dengan kesehatan jiwa. Bagaimana cara mengobati penyakit-penyakit jiwa seperti egoisme, serakah, phobia, iri hati, depresi, waswas, dsb beliau jelaskan dalam kitabnya yang berjudul Ihya’ ‘Ulumiddin. (Lihat juga: Amber Haque, “Psychology from Islamic Perspective: Contributions of Early Muslim Scholars and Challenges to Contemporary Muslim Psychologists,” Journal of Religion and Health 43/4 [2004], hlm 357-77).   
Di abad modern, upaya-upaya untuk menyelami lautan ilmu psikologi Islam dan “menjual mutiara-mutiara”nya brilian masih terkendala oleh beberapa hal. Selain sikap prejudice terhadap khazanah intelektual Islam di satu sisi, dan sikap fanatik terhadap psikologi Barat modern yang nota bene sekular-materialistik di sisi lain, penguasaan bahasa Arab merupakan conditio sine qua non (syarat mutlak) untuk bisa menjelajahi literatur psikologi Islam yang sangat kaya namun belum terjamah itu. Psikolog muslim tinggal memilih mau terus-terusan merujuk Freud, Skinner, Maslow, Ellis, dsb atau belajar dari para ahli psikologi Islam.





Jumat, 05 April 2013

HIPNOSIS DAN MITOS LANGGANANNYA


HIPNOSIS? 
Apa yang kita pikirkan saat mendengar kata hipnosis?
Ada yang bilang ikut hipnosis supaya rahasia 'pasangan' bisa kebuka
Ada yang bilang ikut hipnosis supaya rileks
Ada yang bilang ikut hipnosis supaya... yah banyak lagi. 

tapi apa ya sebenarnya hipnosis itu? 

Hipnosis adalah suatu kondisi mental (menurut state theory) atau diberlakukannya peran imajinatif (menurut non-state theory) Orang yang melakukan proses hipnosis (memberikan sugesti) terhadap subjek disebut hipnotis (hypnotist). Hipnosis biasanya disebabkan oleh prosedur yang dikenal sebagai induksi hipnosis, yang umumnya terdiri dari rangkaian panjang instruksi awal dan sugesti. Sugesti hipnosis dapat disampaikan oleh seorang hipnotis di hadapan subjek, atau mungkin dilakukan sendiri oleh subjek (Self-hipnosis). Penggunaan hipnosis untuk terapi disebut hipnoterapi, sedangkan penggunaannya sebagai bentuk hiburan bagi penonton dikenal sebagai Stage hipnosis.

sekarang kita cek mitosnya yaaaaaaaa......
 
Meskipun penjelasan-penjelasan ilmiah dalam fenomena hipnosis sudah terpublikasi dalam berbagai media, masih saja ada anggapan-anggapan bahwa hipnosis adalah sesuatu yang mistik dan berbahaya. Hal ini ditambah dengan banyaknya tayangan-tayangan di televisi yang mengatasnamakan hipnosis dan menampilkan ketidakberdayaan orang ketika terhipnosis, sehingga menyebabkan kesalahpahaman terhadap hipnosis semakin kuat.
Berikut ini adalah 7 mitos dalam hipnosis yang coba saya ‘luruskan’:
Mitos 1: Hipnosis adalah sesuatu yang supranatural.
Fakta: Hipnosis bukanlah sesuatu yang supranatural atau di luar batas manusia. Proses induksi (membimbing seseorang ke dalam kondisi hipnosis) dapat dijelaskan dan diterima oleh ilmu pengetahuan. Selain itu, keadaan hipnosis sebenarnya adalah alamiah. Kita seringkali mengalami auto-hipnosis tanpa kita sadari, misalnya ketika kita sedang asik sekali dengan pertandingan sepakbola kesukaan kita. Kondisi hipnosis adalah kondisi terfokus dalam 1 hal saja, dalam contoh di atas adalah pertandingan sepakbola.
Mitos 2: Orang yang dapat terhipnosis adalah orang yang bodoh
Fakta: Setiap orang dapat mengalami kondisi hipnosis, terlepas dari tingkat inteligensi seseorang! Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kondisi hipnosis adalah kondisi ilmiah. Lagipula kondisi hipnosis adalah kondisi terfokus atau terpusat pada satu hal, sehingga jika ada orang yang mudah masuk ke dalam kondisi hipnosis, sebenarnya ia adalah orang yang fokus.
Mitos 3: Jika terhipnosis, ada kemungkinan tidak bisa bangun lagi
Fakta: Hipnosis adalah kondisi alami dan dalam keadaan hipnosis, kita bisa mengendalikan diri kita sendiri. Jika hipnotis (orang yang menghipnosis kita) berhenti memberikan instruksi dan meninggalkan kita dalam kondisi hipnosis, maka diri kita memiliki 2 alternatif: (1) dilanjutkan menjadi tidur lalu nanti bangun lagi, atau (2) langsung bangun dari kondisi hipnosis.
Mitos 4: Hipnosis dapat digunakan untuk mengendalikan orang sesuka hati
Fakta: Jangan terpengaruh oleh tayangan TV yang bertujuan sebagai hiburan! Pada saat kita masuk ke dalam kondisi hipnosis, kita tidak sedang kehilangan kendali atas diri kita, melainkan sedang berada dalam kondisi relaksasi yang sangat dalam. Dalam kondisi relaksasi ini, kita menjadi sangat sugestif tetapi jika perintah dari sang hipnotis bertentangan dengan nilai-nilai di dalam diri kita, maka kita dapat menolaknya. Hipnosis sejatinya adalah ‘persetujuan diri sendiri’.
Mitos 5: Hipnosis dapat digunakan untuk membongkar rahasia seseorang
Fakta: Saya ulangi, jangan terpengaruh oleh tayangan TV! Jika sang hipnotis meminta kita untuk membongkar suatu rahasia yang bertentangan dengan nilai-nilai diri kita, maka diri kita tetap dapat menjaga rahasia tersebut. Responnya ada dua, yaitu (1) fight, yaitu ‘menghadapi’ permintaan tersebut dengan berbohong, atau (2) flight, yaitu diam atau memunculkan respon lain. Lagipula, jika hipnosis dapat digunakan untuk membongkar rahasia, maka seharusnya hipnosis sudah menjadi metode yang amat dahsyat untuk menginterogasi para tersangka korupsi dan terorisme.
Mitos 6: Hipnosis berarti kehilangan kesadaran
Fakta: Dalam kondisi terhipnosis, anda masih dapat mengendalikan diri anda. Critical area (bagian pikiran yang berfungsi untuk menyaring informasi) masih bekerja dan dapat membedakan hal-hal yang sesuai dan bertentangan dengan nilai diri. Justru dalam kondisi terhipnosis, kesadaran kita menjadi lebih kuat daripada dalam kondisi bangun (waking).
Mitos 7: Hipnosis adalah bakat
Fakta: Seperti yang sudah saya tuliskan, hipnosis adalah peristiwa alami dalam keseharian kita, sehingga tidak diperlukan bakat khusus untuk memelajari hipnosis. Hanya saja untuk memelajari hipnosis disarankan untuk memiliki instruktur atau mentor agar dapat terarah dengan lebih jelas. Siapa saja bisa memelajari hipnosis, selama ia tidak memiliki gangguan dalam berkomunikasi.
Lalu Bagaimana dengan Kejahatan dengan Hipnosis?
Individu tidak akan dapat terhipnosis jika ia tidak bersedia untuk dihipnosis. Ada dua kemungkinan jika terjadi kasus kejahatan atas nama hipnosis:
(1) Individu terjebak dengan ‘tawaran menggiurkan’ sang penjahat sehingga bersedia mengikuti mau sang penjahat.
Biasanya korban diiming-imingi hadiah uang berpuluh-puluh juta, hadiah spektakuler, dan sebagainya. Pada saat korban masih tertakjub-takjub dengan ‘keberuntungannya’, penjahat akan langsung menginstruksikan kita untuk mentransfer sejumlah uang ‘pajak hadiah’. Kita yang pada saat itu masih terlena dengan ‘keberuntungan’ tentu akan manggut-manggut saja ketika diminta melakukan hal apapun.
Untuk mencegahnya: jangan serakah! Pepatah mengatakan, if it’s too good to be true, then it’s not true. Jangan mudah terlena dengan iming-iming atau bujuk rayu yang terkesan tidak masuk akal. Gunakan akal sehat. Jangan sampai terjerat dalam godaan sang penjahat.
(2) Korban sebenarnya ditipu, tapi karena malu, mengaku dihipnosis.
Karena malu, korban pun mencari dalih lain agar tidak dicap bodoh dengan mengatakan dihipnosis. Korban akan merasa ditipu secara lebih elit bila tertipu karena hipnosis. Alasan ini sebenarnya digunakan untuk menyelamatkan harga diri.
Untuk mencegahnya: jangan mudah terkecoh oleh iming-iming berlebihan!
Semoga dengan tulisan ini, anda menjadi semakin aware dengan fenomena hipnosis dan kejahatan atas nama hipnosis.




psychology hints: Beberapa praktisi memahami sugesti sebagai suatu bentuk komunikasi primer langsung pada pikiran sadar subjek, sementara praktisi lain memandang sugesti sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar atau pikiran sadar. Konsep-konsep ini diperkenalkan dalam konsep hipnotisme pada akhir abad 19 oleh Sigmund Freud dan Pierre Janet. Perintis hipnotisme periode zaman Victoria, termasuk Braid dan Bernheim, tidak menggunakan konsep-konsep ini, tetapi mengakui bahwa sugesti hipnotis diarahkan kepada pikiran sadar subjek. Memang, sebenarnya Braid mendefinisikan hipnotisme sebagaimana berpusat kepada perhatian sadar terhadap suatu ide atau sugesti yang dominan. Pandangan berbeda mengenai sifat dasar pikiran telah menimbulkan berbagai konsep tentang sugesti. Praktisi hipnotis yang mempercayai bahwa respon yang dimediasi terutama oleh pikiran bawah sadar, seperti Milton H. Erickson, menciptakan berbagai macam kegunaan sugesti tidak langsung seperti metafora atau cerita, yang bermaksud untuk menemukan artinya dari pikiran sadar subjek. Konsep sugesti subliminal juga bergantung terhadap pola pikir. Sebaliknya, praktisi hipnotis yang percaya bahwa respon terhadap sugesti terutama dimediasi oleh pikiran sadar, seperti Theodore Barber dan Nicholas Spanos cenderung menggunakan lebih banyak sugesti dan instruksi verbal secara langsung.