Kamis, 20 Maret 2014

Teknik dalam Penyampaian Pengajaran dalam Perspektif Pedagogi



Teknik adalah unsur terkecil dalam strategi pengajaran dan pembelajaran, ia terkandung dalam sesuatu kaedah. Ia merangkumi aktivitas, perlakuan dan kemahiran guru yang digunakan untuk menyampaikanisi pelajaran dalam pengajaran.

Teknik ialah cara menjalankan berbagai langkah dalam pengajaran. Teknik yang digunakan oleh guru akan menjadikan pengajaran itu lebih bermakna dan baik. Seseorang guru harus pandai menggunakan teknik supaya murid lebih berminat dan timbul motivasi untuk belajar. Dalam setiap pengajaran seharusnya terdapat berbagai cara dan teknik yang boleh digunakan, namun begitu tidak ada satu teknik pun yang dianggap paling sesuai dan dapat digunakan untuk semua keadaan atau terbaik untuk semua sesi pengajaran. Teknik yang digunakan hendaklah bergantung kepada keadaan dan berdasarkan kepada minat pelajar serta bahan pengajaran yang hendak disampaikan (Rashid et al 1996). Teknik pengajaran dan pembelajaran ini mempunyai beberapa objektif, antaranya ialah:
  • untuk menyampaikan bahan pengajaran dengan cara yang menarik minat murid-murid dan untuk tetap perhatian serta mencungkil rasa ingin tahu mereka. 
  • untuk membolehkan murid mencapai objektif-objektif pengajaran yang dipelajari dengan mudah dan berkesan. 
Terdapat banyak teknik pengajaran yang bisa digunakan dan diaplikasikan oleh guru semasa proses pengajaran dan pembelajaran seperti teknik main peranan, teknik bercerita, teknik soal jawab, teknik perbincangan, teknik drama dan teknik foru

sumber: surhan-maraja.blogspot.com

Kaedah dalam Pedagogi: Kaidah tunjuk cara


Kaedah pengajaran bermaksud tindakan-tindakan yang dilakukan oleh guru dalam mengendalikan proses pengajaran dan pembelajaran. Kaedah ini melibatkan tindak balas antara guru dan murid (Rahil Mahyudin et al. 1997) . Di antara kaedah yang bersesuaian untuk mengajar pembelajaran Kemahiran Hidup ialah kaedah memberi arahan, demonstrasi, permainan, penemuan, kaedah pusat pembelajaran dan kaedah projek. Di sini diselaraskan beberapa kaedah yang boleh digunakan oleh guru pendidikan khas yang mengajar Kemahiran Hidup.

Kaedah Tunjuk Cara

Kaedah tunjuk cara adalah kaedah yang telah lama digunakan di sekolah. Kaedah ini dipilih terutama sebagai satu cara untuk membiasakan murid dengan prosedur yang perlu diikuti oleh mereka semasa membuat aktivitas seperti berkebun, menggunakan alat dan sebagainya. Kaedah tunjuk cara yang baik mengandungi langkah-langkah yang memberi murid peluang menunjukkan bahwa mereka benar-benar memahami apa yang dipelajari.

Langkah 1 

Tunjukkan kepada murid langkah-langkah yang mesti diikuti oleh mereka untuk melakukan tugas yang diberi. Murid juga perlu dimaklumkan tentang sifat tugas itu.

Langkah 2 

Beri tindak balas kepada murid tentang tunjuk cara yang telah dibuat. Guru juga perlu bertanya  kepada murid untuk memastikan mereka benar-benar paham akan arahan yang diberikan.

Langkah 3 

Tinjau semula langkah-langkah yang perlu diikuti oleh murid. Murid mesti jelas dengan langkah-langkah aktivitas. Adalah baik jika guru menulis setiap arahan untuk memastikan tidak ada arahan yang tertinggal semasa aktivitas berlangsung.

Langkah 4 

guru perlu memilih beberapa orang murid untuk membacakan urutan langkah-langkah benar yang telah dilakukan oleh mereka.

Langkah 5 

Beri peluang murid mempraktikkan apa yang telah dipelajari oleh mereka. Kaedah tunjuk cara apabila dirancang dan dilaksanakan boleh memberi kefahaman kepada murid. Pada awal tunjuk cara, guru boleh mengambil sedikit masa untuk mengingatkan murid tentang objektif yang diberi penekanan. Disebabkan guru menjadi pusat perhatian dalam kaedah tunjuk cara ini, adalah mudah baginya untuk membantu murid mengingat kembali maklumat yang telah dipelajari sebelumnya yang berkaitan dengan tugas pembelajaran baru.

Sumber: surhan-maraja.blogspot.com

Objek dalam Pelaksanaan Pengajaran Pedagogi


Obyek pedagogi adalah “kenyataan pendidikan”. Penelitian tentang kenyataan pendidikan tersebut terbagi menjadi bagian-bagian mendasar berikut ini:
1. Peneliti pendidikan menelurkan “persepsi tentang pendidikan”. Dilihat dari berbagai sudut pandang sebuah esensi pendidikan, seorang pedagogi menyelidiki pertanyaan tentang pengaruh yang diterima anak/peserta didik sesuai tipe dan cara pendidikan.
2. Peneliti pendidikan memikirkan “hubungan antar pendidik dan peserta didik”. Sebuah pendidikan terjadi ketika ada hubungan timbal balik antar pendidik dan yang menerima pendidikan (peserta didik).
3. Peneliti pendidikan membuat “pernyataan tentang maksud dan tujuan dari pendidikan”. Pendidikan tidak selalu terjadi dengan kemauan sendiri, akan tetapi diikuti dengan maksud dan tujuang pendidikan. Ahli pedagogi mempunyai tugas memperkenalkan dan menerangkan tujuan pendidikan.
4. Peneliti pendidikan mendefinikan “pemikiran tentang aktifitas dalam pendidikan”. Tujuan dari pendidikan adalah perubahan yang dialami penerima didikan sesuai dengan maksud dan tujuan sang pendidik. Hal ini akan menimbulkan pertanyaan aktifitas yang bagaimana yang sesuai dengan tujuan diatas.
5. Peneliti pendidikan meneliti “kondisi pendidikan”. Lebih jauh dalam tema ini akan diteliti aspek seberapa jauh kemungkinan belajar dan pendidikan, dan perlunya belajar dan pendidikan (kenapa manusia harus dididik).
6. Peneliti pendidikan menanalisa dan membuat dasar-dasar “syarat-syarat pendidikan”. Pendidikan terjadi dalam situasi kongkrit dimana lingkungan dan manusia yang terlibat memberi pula dampaknya.
7. Terakhir para peneliti pendidikan berkutat dengan “institusi pendidikan”. Pendidikan terjadi di institusi seperti keluarga, taman kanak-kanak, rumah, sekolah, dan sebagainya, dimana masing-masing institusi mempunyai karakter pedagogiknya masing-masing.

sumber: www.psikoducation.blogspot.com

Dinamika dalam Dunia Pedagogi: Apa Saja yang Terjadi dalam Proses Terciptanya Pedagogi?


1. Statis vs Dinamis
Persyaratan guru ada yang cenderung statis dan yang yang dinamis. Persyaratan yang cenderung ststis, berupa persyaratan formal yaitu : kualifikasi akademik dan sertifikat guru. Persyaratan yang bersifat dinamis yaitu kompetensi subtantif, karena harus menyesuaikan dengan kemajuan ilmu pengetyahuan, teknologi, dan perkembangan masyarakat. Upaya memenuhi persyaratan yang dinamis ini sangat tergantung pada prakasa lembaga dan inisiatif penyandang profesi guru itu sendiri.
Era Transisi
Pendidikan merupakan mekanisme penting untuk mencapai tujuan pembangunan. Dalam proses transisi menuju masyarakat ekonomisberbasis TIK semakin dirasakan kebutuhan akan penciptaan dan desiminasi pengetahuan. Pada era transisi ini, sekolah dan lembaga pendidikan tinggi8 harus bermetamorfosis agar tidak mengalami kemunduran di tengah-tengah tekanan yang makin kompetitif. Jka tidak, sekolah dan perguruan tinggi akan tertinggal akan kemjuan ekonomi berbasis penegetahuan.
            Istilah pedagogi tidak hanya berkaitan dengan strategi atau gaya mengajar dalam makna interaksi guru siswa semata, melainkan mengalami perluasan makna, karena berkaitan dengan tanggung jawab guru untuk melampaui peran tradisional mereka, memperluas ruang lingkup kerja mereka dalam berpartisipasi aktif untuk kemajuan pengetahuan, serta peran yang diberikan kepada TIK untuk bertindak sebagai mediasi artefak munculnya sistem jaringan pendidikan, mendukung kolaborasi secara peer-to-peer, termasuk otonomi pembelajaran dan rasa bertanggng jawab untuk belajar.
 2. Esensi Pedagogi Transformatif
Dengan pedagogi transformatif, konstruksi sosial kurikulum dipahami sebagai seperangkat nilai-nilai dan keyakinan yang mencerminkan esensi anak didik sebagai makhluk transformasional, bukan sekedar dipersepsi sebagai interaksi antar merekan dan guru. Konsekuensi dari perubahan ini adlah pengenalan kembali bentuk-bentuk baru pedagogi diakaitkan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pedagogi transformatif harus memilki agenda bagi proses penciptaan pengetahuan, fasilitas, hubungannya dengan kekuasaan, serta kurikulum berbasis produk ilmu pengetahuan itu sendiri.
            Era TIK inipun mendorong penyempurnaan proyek-proyek global berskala besar di bidang teknologi pendidikan.
 3. Resolusi Konflik
Pendidikan bukan menjadikan wahana trasformasi ideologi perlawanan, melainkan mestinya banyak yang menawarkan resolusi konflik. Siswa mestinya berpikir alternatif untuk tidak selalu menampilakan tindakan demontratif, kecualai resolusi dialogis benar-benar macet.
 4. Komunitas Praktik
Aplikasi TIK dalam pembelajaran telah memberi pemaknaan baru pada pedagogi. Meski ada perwarnaan baru, namu n esensi pedagogi tetap tidak keluar dari kesejatiannya, antara lain :
  • Pedagogi kerja, diamana siswa belajar dengan membuat produk yang bergunua atau menyediakan layanan yang bermanfaat.
  • Pembelajaran kooperatif, dimana kegiatan mengajar dan belajar dilakanankan berdasarkan kerjasama dalam proses yang produktif.
  • Pembelajaran berbasis penyelidikan, dimana kagiatan ini dapat dilakukan dengan metode trial dan error yang melibat kelompok kerja, dll
  • Metode kerja ilmu pengetahuaan alam atau sains, khususnya kegiatan pembelajaran dengan pendekatan induktif, pendekatan ilmiah, dsb.
  • Pembelajaran berbasis atau berpusat pada minat siswa belajar dan rasa ingin tahu mereka.
 5. Objek dan Instrument
Pedagogi transformatif tidak hanya berkaitan dengan transformasi pembelajaran dalam konteks sosial di sekolah, melainkan berangkat dari konteks sosial itu sendiri. Kapasitas  pedagogi tansformatif muncul dari sinergi antara ketersediaan sumber daya dan komitmen untuk membawa proyek-proyek yang bermakna bagi komunitas manusia untuk hidup. Dalam hal ini objek pedagogi transformatif mengambil dasarnya metodologi inovatif, yang berperan sebagai artefak konseptual untuk menyeberangi batas-batas strategi pembelajaran disatu sisi dan manajemen transformasi berkelanjutan pada tingkat induvidu, kelompok, dan organisasi di sisi lain.
6. Multivarian Model
Teori pedagogi trasnformatif telah bermetamorfosis menjadi banya varian antara lain teori model jaringan integratif, teori model pembelajaran ekspansif, teori model penciptaan pengetahuan, teori model praktis komunitas praktis, dan teori model bangun pengetahuan.
 7. Membatasi Siswa
Belakangan ini pola interkasi guru dengan siswa bukan hanya membatasi kesempatan sisiwa membuat dan mengkreasi  bahasa secara bebas, namun juga membatasi kemampuan siswa untuk terlibat lebih jauh dalam belajar hingga tatanan kemampuan berpikirtingkat tinggi.
 8. Studi Longitudinal
Kerangka kerja membantu guru-guru memilih dan mengembangkan strategi yang sesuai untuk apa mereka mengajar dan variabel gaya pendekatan mengajar sesuai dengan latar belakang murid-murid mereka.


sumber: Pedagogi, Andragogi dan Heutagogi oleh Prof. Dr Sudarwan Danim

Pedagogi dan Esensinya


           Pedagogi ialah kajian mengenai pengajaran, khususnya pengajaran dalam pendidikan formal. Dengan kata lain, ia adalah sains dan seni mengenai cara mengajar di sekolah. Secara umumnya pedagogi merupakan mata pelajaran yang wajib bagi mereka yang ingin menjadi guru di sekolah. Sebagai satu bidang kajian yang luas, pedagogi melibatkkan kajian mengenai proses pengajaran dan pembelajaran, pengurusan bilik darjah, organisasi sekolah dan juga interaksi guru-pelajar.

            Dari segi etimologinya, perkataan Pedagogi datangnya daripada bahasa Yunani paidagogos, hamba yang menghantar dan mengambil budak-budak pergi balik dari sekolah. Perkataan “paida” merujuk kepada kanak-kanak, yang menjadikan sebab kenapa sebahagian orang cenderung membezakan antara pedagogi (mengajar kanak-kanak) dan andragogi(mengajar orang dewasa). Perkataan Yunani untuk pedagogi, adalah digunakan dengan lebih meluas, dan seringkali kedua-duanya boleh ditukar guna.
Taksonomi Bloom
Pedagogi moden selalunya membahagikan fungsi pengajaran kepada tiga bidang, yakni apa yang dimaksudkan sebagai taksonomi Bloom. Menurut taksonomi bloom, pengajaran boleh terbahagi kepada:
  • Bidang Kognitif
    Berkenaan dengan aktiviti mental seperti kefahaman, pengetahuan dan analisa.
  • Bidang Afektif
    Berkenaan dengan sikap dan sahsiah diri.
  • Bidang Psikomotor
    Berkenaan dengan aktiviti fizikal seperti kemahiran hidup, pertukangan, dan sukan.
            Ketiga-tiga bidang ini nampaknya begitu tersendiri sifatnya, tetapi dalam keadaan pengajaran-pembelajaran semula jadi, pengasingan ketiga perkara ini selalunya tidak wujud. Contohnya, apabila seorang guru ingin mengajar seorang pelajar menulis, dia perlu mengajar pelajar itu cara memegang pencil(bidang psikomotor); bentuk huruf dan maknanya(bidang kognitif); dan juga harus memupuk minat untuk belajar menulis(bidang afektif).
Topik dalam pedagogi
Pedagogi merupakan satu ilmu yang luas dan mendalam. Pembincangannya boleh dibahagi kepada dua bahagian yang besar iaitu:

-Perkaedahan Pengajaran
- Teori pengajaran dan pembelajaran

            Pada lazimnya, seorang bakal guru akan menerusi kedua-dua bidang ini sebelum menjadi seorang guru. Tetapi bersamping itu, dia juga harus mempelajari perkara-perkara seperti pengurusan bilik darjah, organisasi sekolah, kurikulum sekolah, Perlakuan Mengajar, Interaksi Guru-Pelajar dan sebagainya.

sumber: Pedagogi, Andragogi dan Heutagogi oleh Prof. Dr Sudarwan Danim