Rabu, 20 November 2013

Teori Belajar Vygotsky


Teori belajar yang dipegang oleh vygotsky lebih mengacu pada kontruktivisme. Karena ia lebih menekan pada hakikat pembelajaran sosiokultural. Dalam analisisnya, perkembangan kognitif seseorang disamping ditentukan oleh individu sendiri secara aktif, juga ditentukan oleh lingkungan social secara aktif.
Oleh karena itu, ada beberapa hal penting pada teori belajar vygotsky:
1.hukum genetic tentang perkembangan (genetic law of development)
Setiap kemampuan seseorang akan tumbuh dan berkembang melewati dua aturan: tataran social lingkungannya dan tataran psikologis yang ada pada dirinya.
2. zona perkembangan proksimal (zone of proximal development)
Perkembangan kemampuan seseorang dapat dibedakan dalam dua tingkat : tingkat perkembangan actual yang tampak dari kemampuannya menyelesaikan tugas-tugas atau memecahkan masalah secara mandiri, dan tingkat perkembangan potensial yang tampak dari kemampuan seseorang dalam menyelesaikan tugas atau pemecahan masalah dibawah bimbingan orang dewasa.
3. mediasi
Mediator yang diperankan lewat tanda maupun lambing adalah kunci utama memahami proses-proses social dan psikologis. Makanya, jika dikaji lebih mendalam teori perkembangan kognitif vygotsky akan ditemukan dua jenis mediasi. Media metakognitif dan mediasi kognitif.
Media metakognitif adalah penggunaan alat-alat semiotic yang bertujuan untuk melakukan self regalution (pengaturan diri) yang mencakum: self planning, sekff monitoring, self chechikng dan self evaluation. Media ini berkembang dalam komunikasi antar pribadi.
Sedang media kognitif adalah penggunaan alat-alat kognitif untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan pengetahuan tertentu. Sehingga, media ini bisa berhubungan konsep spontan (yang bisa salah) dan konsep ilmiah (yang lebih terjamin kebenarannya)
Dalam semua literatus yang mengupas tetang teori perkembangan kognitif vygotsky kerap memakjubkan pesan vygotsky yang bernada: “untuk membantu8 anak membangkan pengetahuan yang sungguh-sungguh bermakna adalah dengan cara memadukan antar konsep-konsep dan prosedur mulalui demonstrasi.
Pada dasarnya teori-teori Vygotsky didasarkan pada tiga ide utama: (1) bahwa intelektual berkembang pada saat individu menghadapi ide-ide baru dan sulit mengaitkan ide-ide tersebut dengan apa yang mereka telah ketahui; (2) bahwa interaksi dengan orang lain memperkaya perkembangan intelektual; (3) peran utama guru adalah bertindak sebagai seorang pembantu dan mediator pembelajaran siswa.
Sumbangan psikologi kognitif berakar dari teori-teori yang menjelaskan bagaimana otak bekerja dan bagaimana individu memperoleh dan memproses informasi. Pandangan yang ditawarkan Vygotsky dan para ahli psikologi kognitif yang lebih mutakhir adalah penting dalam memahami penggunaan-penggunaan strategi belajar karena tiga alasan. Pertama, mereka menggarisbawahi peran penting pengetahuan awal dalam proses belajar. Dua, mereka membantu kita memahami pengetahuan dan perbedaan antara berbagai jenis pengetahuan. Dan tiga, mereka membantu menjelaskan bagaimana pengetahuan diperoleh manusia dan diproses dalam sistem memori otak.

Teori Belajar Jean Piaget


Menurut Piaget, dasar dari belajar adalah aktivitas anak bila ia berinteraksi dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya. Pertumbuhan anak merupakan suatu proses sosial. Anak tidak berinteraksi dengan lingkungan fisiknya sebagai suatu individu terikat, tetapi sebagai bagian dari kelompok sosial. Aktivitas mental anak terorganisasi dalam suatu struktur kegiatan mental yang disebut ”skema” atau pola tingkah laku.
Dalam perkembangan intelektual ada tiga hal penting yang menjadi perhatian Piaget yaitu struktur, isi dan fungsi.
a1. Aspek struktur
Ada hubungan fungsional antara tindakan fisik, tindakan mental dan perkembangan berfikir logis anak-anak. Tindakan tindakan menuju pada perkembangan operasi-operasi, dan selanjutnya menuju pada perkembangan struktur-struktur. Struktur ynag juga di sebut skemata atau juga biasa disebut dengan konsep, merupankan organisasi mental tingkat tinggi. Struktur intelektual terbentuk pada individu waktu ia perlu interaksi dengan lingkungannya. Strktur yang terbentuk lebih memudahkan individu menghadapi tuntutan yang makin meningkat dari linkungannya. Dengan  diperolehnya suatu sekemata berarti teklah terjadi suatu perubahan dalam perkembangan intlektual anak.
b2. Aspek isi
Yang  dimaksud isi disini ialah pola prilaku anak khas yng tercermin pada respon yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang di hadapinya. Perhatian piaget tertuju pada isi pikiran anak, misalnya perubahan anak dalam kemampuan penalaran semenjak kecil hingga besar, konsepsi anak tentang alam sekitarnya yaitu pohon-pohon, Matahari, bulan dan konsepsi anak tentang beberapa peristiwa alam seperti bergeraknya awan dan sungai. Kemudian perhatian di tujukan lebih dalam lagi yaitu analisis proses-proses yang melandasi dan menentukan isi pikiran anak itu.
c3. Aspek fungsi
Fungsi adalah cara yang di gunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektual. Perkembangan intelektual didasrkan pada 2 fungsi yaitu organisasi dan adaptasi. Organisasi memberikan organisme kemampuan untuk mensistimatikkan atau mengorganisasikan proses-proses fisik atau proses-proses psikologis menjadi sistem yag teratur dan berhubungan. Dengan organisasi, struktur fisik dan struktur psikologis diintegrasikan menjadi struktur tingkat tinggi. Fungsi ke dua yang melandasi perkembangan intelektual adalah adaptasi. Semua organisme lahir dengan kecendrungan untuk menyesuaikan diri atau beradaptsi pada lingkungan. Cara adaptasi ini berbaeda antar organisme yang satu dengan organisme yang lainnya. Adaptasi terhadap lingkungan di lakukan melalui dua peroses yaitu asimilasi dan akomodasi. Dalam proses asimilasi seseorang menggunakan stuktur atau kemampuan yang sudah ada untuk menanggapi masalah yang di hadapi dalam lingkungannya. Dalam proses akomodasi seseorang memrlukan modifikasi struktur mental yang ada dalam mengadakan respon terhadap tantangan lingkungan
Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya. Asimilasi dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini berjalan terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian skema melainkan perkembangan skema. Asimilasi adalah salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru pengertian orang itu berkembang.
Akomodasi. Dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru dengan skema yang telah dipunyai. Pengalaman yang baru itu bisa jadi sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Dalam keadaan demikian orang akan mengadakan akomodasi. Akomodasi tejadi untuk membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan yang baru atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu.
Bagi Piaget adaptasi merupakan suatu kesetimbangan antara asimilasi dan akomodasi. Bila dalam proses asimilasi seseorang tidak dapat mengadakan adaptasi terhadap lingkungannya maka terjadilah ketidakseimbangan (disequilibrium). Akibat ketidakseimbangan itu maka terjadilah akomodasi dan struktur kognitif yang ada akan mengalami perubahan atau munculnya struktur yang baru. Pertumbuhan intelektual ini merupakan proses terus menerus tentang keadaan ketidakseimbangan dan keadaan setimbang (disequilibrium-equilibrium). Tetapi bila terjadi kesetimbangan maka individu akan berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada sebelumnya (equilibrasi).

Senin, 28 Oktober 2013

TESTIMONI MENGENAI UJIAN TENGAH SEMESTER MATA KULIAH PSIKOLOGI BELAJAR

Pada akhir dari UTS psikologi belajar, setiap peserta diminta untuk menjabarkan testimoni mengenai proses UTS tersebut. maka dari itu, berikut testimoni saya:
Untuk testimoni saya pada UTS psikologi belajar, pada teori belajar piaget (saya mencoba masuk ke ranah teori belajar yang lain) dimana piaget memandang belajar sebagai suatu PROSES (hal 323 buku Learning and Instruction). maka dari itu, saya merasakan bahwa setiap kesalahan, reward, dan seluruh proses yang saya alami secara gestalt seutuhnya adalah pengalaman dan proses pembalajaran. bagi saya metode UTS kali ini, sesuai dengan teori piaget, memacu saya untuk terus stand-by pada segala kemungkinan (maka dari itu merupakan salah satu proses belajar). saya juga dituntut untuk mampu menjawab soal secara komprehensif dan baik sehingga proses metakognisi saya (yaitu proses adaptasi pada jawaban kedua) juga berperan. overall, UTS psikologi belajar menggunakan metode yang inovatif dam fleksibel (menggunakan fasilitas online) sehingga lebih leluasa bagi mahasiswa untuk menjalani proses UTS tersebut.

Sabtu, 28 September 2013

Ringkasan Bab 4 Psikologi Belajar: Teori belajar BF Skinner



Dalam pendekatannya, Skinner percaya bahwa perilaku dapat dikontrol oleh konsekuensinya, yaitu melalui apa yang mengikuti tingkah laku itu. Seekor hewan atau seorang manusia dapat dilatih untuk menunjukkan tindakan melalui reinforcement yang besar dan alami. Begitu juga dengan yang mengontrol penguat itu mempunyai kekuatan untuk mengontrol perilaku manusia.
Skinner membedakan antara 2 jenis perilaku, yaitu respondent behavior dan operant behavior. Respondent behavior melibatkan sebuah respon yang dibuat atau ditimbulkan oleh sebuah stimulus khusus. Sebuah gerak refleks, seperti sentakan lutut merupakan contoh respondent behavior. Stimulus diberikan (sebuah ketukan di lutut) dan respon muncul (lutut menyentak). Perilaku ini tidak dipelajari dan terjadi secara otomatis.
Respondent behavior tidak memiliki pengaruh pada lingkungan. Seperti dalam contoh, air liur anjing yang menjadi respon pada bunyi bel tidak mengubah bel atau penguat (makanan) yang mengikutinya. Hal ini berlawanan dengan operant behavior yang berakibat terhadap lingkungan dan sebagai hasilnya mengubah lingkungan tersebut.
            Untuk mengilustrasikan proses operant conditioning, Skinner membuat suatu percobaan yang dikenal sebagai Skinner box. Melalui proses stimulus generalisasi, organisme belajar untuk membuat sebuah respon khusus yang sama pada situasi lain yang sangat mirip dengan situasi dimana respon tersebut dipelajari.

Generalization dan discrimination merupakan suatu hal yang penting dalam proses belajar. Jika kita tidak dapat melakukan generalisasi, kita tidak akan pernah belajar tentang apapun. Jika kita telah belajar segalanya, kita dapat memulainya dari goresan, kita akan menghabiskan banyak waktu setiap harinya untuk belajar perilaku yang baru.karena tak ada individu yang pernah menemukan situasi yang sama dua kalinya. Dengan kata lain, jika kita tidak dapat melakukan diskriminasi, kita akan terus-menerus memunculkan respon yang tidak sesuai dengan situasi yang berbeda dari yang lain, dan perilaku kita akan kacau-balau.

Senin, 23 September 2013

Testimoni Kuliah Online Psikologi Belajar Tanggal 19 September 2013


Kuliah online, sebelumnya merupakan metode yang digunakan pada mata kuliah psikologi pendidikan , dengan metode penggunaan Gmail serta chats, dimana penggunaan group chat menjadi sarana diskusi pada materi pembelajaran.

Berikut testimoni mengenai kuliah online tanggal 19 september, pukul 16.00 sampai 18.00:

Pada dasarnya kuliah online kali ini berlangsung dengan suasana yang berbeda karena heterogenitas angkatan mahasiswa yang bergabung. Dari abang-kakak angkatan 2010 sampai angkatan 2012. Maka dari itu kuliah online semakin terasa dan semakin bervariasi. Pada akhirnya kuliah online membahas mengenai teori behaviorisme dan gestalt, dan didiskusikan dengan metode pemberian opini dari seluruh mahasiswa yang bergabung dalam kuliah online. Walaupun terkadang ada gangguan jaringan, dan tentu saja resiko pada saat kuliah online lebih tinggi, tetap saja efisiensinya sangat terevelasi.

Kuliah online merupakan inovasi dan terobosan baru, dimana kita bisa saling terhubunga dimana saja, membuat focus group dan memulai diskusi. Padahal jika ditinjau dari segala kondisi, kuliah online ini bisa menjadi sarana dan solusi bagi pembelajaran yang mengutamakan ketepatan dan kecepatan dalam studi terutama dalam membahas materi tertentu. Misalnya pada pembahasan mengenai teori belajar behaviorisme dan gestalt dapat didiskusikan secara fleksibel, dan praktis karena hasil dari diskusi dapat langsung di record melalui verbatim. 

Kuliah online kali ini membahas mengenai behavioristik dan gestalt (teori belajar) dimana terdapat beberap diskusi mengenai pengaplikasian terhadap dua teori tersebut serta pengertian dari beberapa istilah secara menyeluruh. Pada beberap diskusi kami saling memberikan opini dan contoh seperti bagaimana teori gestalt dalam frekuensi kemunculannya dalam kehidupan, juga bagaimana teori behavioristik menolong kita dalam membentuk perilaku.

Akhir dari diskusi, kami masih terus memberikan opini mengenai apa yang sebenarnya didapat dari diskusi dan juga mengenai teori yang kami diskusikan. Kami menyadari bahwa sebenarnya kedua teori tersebut sangat aplikatif dan juga sangat mudah untuk diaplikasikan pada situasi apapun. Sehingga pada penerapannya terutama dalam konteks pembelajaran,  kami yakin bahwa kedua teori tersebut sangatlah cocok bila diterapkan pada satu kesatuan.

Lain jika dibandingkan dengan kuliah konvensional dimana harus memberikan waktu dan tempat serta fasilitas yang mumpuni, hanya bermodalkan gadget dan koneksi internet maka kita dapat menyelesaikan proses untuk bergabung di kuliah online dan masuk kedalam percakapan grup yang telah ditentukan secara tepat. Kelebihan yang lain adalah opini dari setiap peserta kuliah online akan dapat terserap dengan baik pada setiap peserta kuliah online, sehingga pada akhirnya seluruh peserta kuliah online dapat memahami apa yang sebenarnya dibahas dan juga membandingkan opini mereka pada satu wadah yang cepat dan tepat.

Satu mekanisme yang paling menarik adalah bagaimana hasil percakapan dapat langsung dikirim dan di feedback. Hal ini juga memberikan efisiensi waktu dan juga usaha. Dimana pada akhirnya segala yang dikerjakan dapat direview ulang dan proses pengerjaannya sangatlah transparan.  Pendapat-pendapat yang terdapat pada hasil pengerjaan juga cenderung jujur tanpa adanya proses pengeditan sehingga benar-benar mirip seperti sedang kuliah tatap muka namun berlangsung secara terpisah.

Lalu, jika ditinjau ulang, proses kuliah online demi mendapatkan ilmu, serta nilai adalah proses reward and punishment dari teori behavioral. Sedangkan keseluruhan persepsi kami dalam diskusi tersebut bila disatukan maka akan menjadi satu kesatuan utuh sehingga dapat dikategorikan sebagai kesatuan yang dapat dimengerti menjadi Ilmu pengatahuan (gestalt)

Overall, kuliah obline Psikologi Belajar, sangat berciri khas.

Minggu, 15 September 2013

Review Teori-Teori Belajar Awal


“Di setiap masa, sains adalah hal-hal yang dihasilkan oleh riset, dan riset tidak lain adalah metode efektif yang telah ditentukan dan sesuai zamannya. Setiap langkah dalam kemajuan sains atau ilmu pengetahuan akan bergantung pada langkah sebelumnya, dan proses ini tidak bias dipercepat hanya dengan berharap.” –boring, 1930

Behaviorisme

Aliran behaviorisme ini didirikan oleh B. Watson. Behaviorisme menjadi aliran dominan dari 1920-an hingga 1950-an, namun ia tidak sepenuhnya bebas dari penantang. Pendapat yang menentangnya, yakni psikologi gestalt, yang menekankan pada pentingnya persepsi pemelajar dalam situasi pemecahan masalah dan karenanya ia membahas persoalan kognisi. Selain mengajak orang lain untuk mendukung pendapat behaviorisme, Watson juga mengambangkan teori emosi behavioral. Dia berpendapat bahwa kehidupan emosi orang dewasa bersumber dari pengkondisian reaksi emosional insting terhadap berbagai macam objek dan peristiwa.

Argumen Dasar Behaviorisme
Dalam konteks ini, John Watson mendukung studi perilaku. Alasannya adalah semua organism menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui respon, dan respon-respon tertentu biasanya disebabkan oleh peristiwa (stimuli) tertentu. Stelah mendalami studi perilaku, Watson menemukan riset reflex motorik dari psikolog Rusia, V.M. Bekheteren. Setelah membaca riset Bekheteren, Watson makin percaya bahwa control perilaku didunia nyata akan segera dapat dilakukan.

Asumsi Dasar
1.      Perilaku yang dapat diamati, bukan kejadian mental internal atau rekonstruksi verbal atas kejadian.
2.      Perilaku harus dipelajari melelaui elemennya yang paling sederhana.
3.      Proses belajar adalah perubahan behavioral.

Sementara itu, connectionism dari Thorndike menyatakan bahwa belajar merupakan proses coba-coba sebagai reaksi terhadap stimulus. Respons yang benar akan semakin diperkuat melalui serangkaian proses coba-coba, sementara respons yang tidak benar akan menghilang. Akibat menyenangkan dari suatu respons akan memperkuat kemungkinan munculnya respons. Respons yang benar diperoleh dari proses yang berulang kali yang dapat terjadi hanya jika siswa dalam keadaan siap.

Teori behaviorism dari Watson menyatakan bahwa stimulus dan respons yang menjadi konsep dasar dalam teori perilaku haruslah berbentuk tingkah laku yang dapat diamati. Interaksi stimulus dan respons merupakan proses pengkondisian yang akan terjadi berulang-ulang untuk mencapai hasil yang cukup kompleks.

Ciri dari teori behavioristik adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkahl laku adalah hasil belajar.

Gestalt (teori belajar) 
Teori belajar menurut psikologi Gestalt sering kali disebut insight full learning atau  field theory. Ada pula istilah lain yang sebetulnya identik dengan teori ini, yaitu organismic, pattern, holostic, integration, configuration,dan closure.
Jiwa manusia, menurut aliran ini, adalah suatu keseluruhan yang berstruktur atau merupakan suatu sistem, bukan hanya terdiri atas sejumlah bagian atau unsur yang satu sama lain terpisah, yang tidak mempunyai hubungan fungsional. Manusia adalah individu yang merupakan berbentuk jasmani – rohani. Sebagai individu, manusia itu bereaksi, atau lebih tepatnya berinteraksi, dengan dunia luar, dengan kepribadiannya, dan dengan cara yang unik pula. Sebagai pribadi, manusia tidak secara langsung bereaksi terhadap suatu perangsang, dan tidak pula reaksinya itu dilakukan secara trial and error seperti dikatakan oleh penganut teori conditoning.

Atas dasar itu, maka belajar, dalam pandangan psikologi Gestalt, bukan sekedar proses asosiasi antara stimulus – respons yang kian lama kian kuat disebabkan adanya berbagai latihan atau ulangan – ulangan. Menurut aliran ini, disebabkan adanya berbagai latihan atau ulangan – ulangan. Menurut aliran ini belajar itu terjadi apabila terdapat pengertian (insight). Pengertian ini muncul jika seseorang. Setelah beberapa saat, mencoba memahami suatu problem, tiba – tiba muncul adanya kejelasan, terlihat olehnya hubungan antara unsur – unsut yang satu dengan yang lain, kemudian dipahami sangkut – pautnya, untuk kemudian dimengerti maknanya.